Friday, February 5, 2010

Ayam merica ibuiya

Bahan :
1/2 kg ayam fillet potong dadu
3 siung bawang putih
1/2 bawang bombay
Merica secukupnya
Garam secukupnya
2 sendok kecap angsa
1 sendok kecap manis
Bubuk jahe secukupnya

Utk rendeman ayam :
3 sendok minyak wijen
5 sendok kecap angsa
Minyak utk goreng & tumis

Caranya :
- rendam potongan ayam dalam minyak wijen & kecap angsa selama 30 menit
- goreng ayam hingga matang, tiriskan
- tumis bawang putih, bawang bombay hingga harum
- masukkan ayam, kecap manis, kecap angsa, garam & jahe bubuk, aduk rata
- bubuhkan merica bubuk, aduk rata, angkat

Sunday, January 24, 2010

Ini Budi. B u d i.

"Enak eskimnya!"
"Tapi cuma boleh 1 sehari ya! Kalo tiap hari makan es krim kan pilek."
"Ah nanti aku gede mo jadi tukang eskim aja!"
"Ya jangan dong. Cita2 itu doa. Kalo berdoa yg bener. Mau jadi presiden, atau dokter. Jangan jadi tukang es krim!"
...Dan si anak pun merengut

Itu tadi percakapan anak & orangtuanya yg duduk di sebelah gw pas beli es krim.

Sejujurnya merasa kesian sama si anak itu. Betapa pendapatnya gak dihargai. Apakah anak itu salah mengutarakan pendapatnya? Yakin deh, tuh anak pasti ngomong 'pengen jadi tukang es krim' karena mikir tukang es krim bebas mo makan es krim berapa banyak pun...?

Padahal, kalo bener tu anak mo jadi tukang es krim trus bikin perusahaan es krim sekaliber haagen dasz atau baskin & robins...yaa gak usah jauh2 : campina? Baltic? Walls?

Inget dulu jaman sd belajar bahasa indonesia (belajar baca) begini kan :
B u d i
Bu di
Budi

I ni i bu bu di
Ini ibu budi

Ibu pergi ke pasar
Bapak pergi ke kantor

Betapa melekatnya pelajaran ini kayaknya, sampe2 kalo ada anak yg bapaknya gak kerja di kantor, atau dateng ke terima raport, dicela-cela temen lainnya. Padahal bisa aja bapak itu kerjanya di rumah? Atau bapaknya punya usaha yg usahanya jalan dan yg punya tinggal jalan2 aja?

Secara gak sadar kita jadi terprogram bahwa :
- ibu shopaholic
- bapak harus ngantor

Nggak tau ya, apa kurikulum anak sd skarang masih gini atau udah beda? Moga2 beda ya..hehehe

Seringkali gue dapet tantangan untuk tetap tersenyum saat menerima 'dakwaan' :
"Sayang banget lulusan feui nggak kerja? Udah susah2 masuk ui, nggak ngantor"
Halo? Masuk ui nggak susah kok! Kalo bawa mobil, siapin duit 2ribu aja! Hehehe...

Makanya dari skarang, ammar gw pupuk utk berdagang & menabung. Beliin mainan kasir2an, tiap trima duit gw suruh masukin celengan. Moga2 nyantol sampe gede.

Nah balik ke anak yg tadi, kalo itu percakapan antara ammar dan gue (berangan-angan) kayaknya gw akan menjawab gini deh :
"Enak eskimnya!"
"Ammar suka ya?"
"Iya! Nanti kalo gede mau jadi tukang eskim!"
"Ammar mau jual es krim?"
"Iya! Biar bisa makan eskim setiap saat"
"Kalo gitu, harus rajin belajar supaya sukses jualan es krim nggak rugi dimakan sendiri. Makan yg sehat dan rajin olahraga biar gak pilek kalo makan es krim terus. Ok!"
"Ok ibu!"
...Hehe ngayal niye...

Thursday, December 31, 2009

Pizza pancake

Kulit pancake
8 sendok bebek tepung terigu
1 sdt garam
1/2 sdt baking powder
1 telur
2 sdm minyak goreng
1/2 cangkir Air

Topping
Pasta tomat
Rosemary kering cincang
Bawang bombay
Paprika hijau
Salami
Keju cheddar
Jamur

Cara bikin kulit :
Campur terigu, garam, baking powder
Campur air pelan2, tambah telur, kocong rata
Goreng di wajan teflon

Kulit beri topping :
Pasta tomat, rosemary, bwg bombay, paprika, jamur, salami, lalu taburi chedar cheese parut
Panggang di oven 180' selama 3-5 menit

Tadaaaa!!!!
Jadi 3 loyang

Monday, November 2, 2009

Kisah desa sri,yani,imah,inem&kati

Di desa ini, mereka pulang tiap setaun sekali alias pas lebaran. Bawa oleh2 : sabun, shampoo ama odol.
>Loh? Emang disana gak ada yg jual?
Ada sih...cuma kalo dikirim duit, akhirnya gak beli sabun shampoo ama odol, tapi malah kepake buat yg lain.
>Trus kalo gak bisa beli shampoo gimana?
Langkah pertama : "nyuwun" alias minta sama sebelahnya pas mandi di kali. Kalo gak bisa, keramas pake sabun mandi, ato mentok2 : sabun colek...yeap : sabun colek! Sabun colek buat keramas

Di desa ini mereka ninggalin anaknya sekolah. Anak yg sekolah di TK harus didampingi mbahnya yg rata2 juga masih butahuruf, karena pelajarannya berat : membaca menulis dan harus bisa waktu gurunya dateng ngetes ke masing2 anak. Akibatnya gak jarang anak2 TK ini stress gak mau sekolah karna takut blom bisa pelajaran yg kmaren. Jadi, sepertinya lagu 'taman yg paling indah hanya taman kami,taman yg paling indah taman kanak2,tempat bermain, bersenang-senang,taman yg paling indah taman kanak2' nggak dinyanyikan dengan jujur oleh anak2 TK ini.

Di desa ini, mereka berangkat ke jakarta untuk bekerja. Karena mereka nggak ada yg lulus smp (bahkan nggak lulus sd). Yani yg paling muda, paling terakhir gak lulus smp. Tapi punya ijazah smp! Betapa membingungkan tiap kali ditanya : "jadi kamu lulus dong! Itu buktinya dapet ijazah?", jawabnya : "nggak mbak, waktu pengumuman nggak lulus, tapi disuruh bayar utk ijazah 600ribu". Dan untungnya udah ada sodaranya yg udah punya networking kenceng di jakarta, yg akhirnya membawa yani ke jakarta (juga sri 3 taun yg lalu, dan kati 15 taun yg lalu, dan inem 20 taun yg lalu, dan imah 29 taun yg lalu) utk bekerja sebagai asisten rumah tangga.

Di desa ini mereka lahir, dibesarkan dengan sopan santun & tata krama yg berbeda jauh dengan tempat kerja mereka. Dan semakin kesini, generasinya semakin kurang inggah-ingguh. Bukannya 'sok priyayi', tapi budaya menghormati hak & kewajiban tetap harus dipegang teguh baik oleh pekerja kepada pemberi kerja maupun sebaliknya tho?
>Generasi imah inem kati adalah generasi yg 'gak perlu ditanya pasti balik lagi tiap mudik'. Bahkan bawa oleh2 segedabruk (baca : gak kira2) untuk menyenangkan majikannya. Gak peduli duitnya tongpes lagi sampe jakarta.
>Tapi generasi sri & yani bertolak belakang. Bahkan mereka bisa tawar2an kerjaan pas di kendaraan saat balik dari mudik. Loyalitas bukan segalanya. Uang tunai adalah raja. Fasilitas nggak pernah diperhatiin. Gengsi & 'gaul' adalah segalanya. Jadi, ibarat kata udah kerja jadi tukang cuci-setrika-nyapu-ngepel doang dengan fasilitas makan sepuasnya, lauk = pemberi kerja (baca : makannya sama2 daging, ayam, telor bahkan suka2 mau ambil indomi) dan sabun shampoo odol pembalut dibeliin tiap belanja bulanan digaji 500rb/bulan bersih, akan ditinggalkan demi kerja di toko gaji 700rb tapi ngontrak sendiri,makan sendiri,kebutuhan harian juga beli sendiri. Ujungnya, setelah sadar yg nyisa akhir bulan cuma 20ribu (sukur2 nyisa! Kadang ngutang ama tukang warung), minta balik kerja rumahan...

Di desa ini mereka ngebangun rumah, bukan untuk mereka tempatin, tapi untuk ortu mereka ngegedein anak mereka, dan jadi tempatnya pulang pas lebaran setaun sekali itu.
Dimana tiap kali bangun rumah, gak ada kuli bangunan yg bisa dipanggil dibayar harian. Tapi minta tolong tetangga sekitar, sambil tiap hari mesti nyediain makan 3x sehari dengan lauk ayam kampung + besek (bungkusan) buat keluarga di rumah yg ditinggalin. Jadi ujung2nya setelah dihitung, murahan bayar kuli di jkt rate 70-50rb tapi kerjanya bisa kita atur2 & jelas jobdescnya.

Akhirnya setelah gw perhatiin,
Di desa ini generasi mendatangnya akan lebih kacau dibanding yg sekarang. Sistem pendidikan yg gak jelas, gak kompeten & belom2 udah ngajarin siswa utk malak mlulu. Matinya kreatifitas karena pembodohan & kebiasaan 'disuapin'. GENGSItisitas & GAULisitas yg sangat diagung2kan dan sepertinya terpatri dalam2 di benak anak2nya. Mereka gak bisa menilai mana yg benar, mana yg salah. Cuma bisa ngeliat mana yg kaya, mana yg miskin.

Semoga penilaian gue salah...tapi di desa ini, uang kita seharusnya berputar dengan baik. Tapi nyatanya penduduk desa ini tidak semakin kaya & juga tidak semakin kreatif. Hanya semakin konsumtif & semakin menuntut.

Wednesday, September 30, 2009

Ibu Saya Bukan Teman Facebook Saya

Ibu Saya Bukan Teman Facebook Saya

Rabu, 30 September 2009 | 09.43 WIB



KOMPAS.com - Kami tertarik dengan tanggapan Ibu Rani yang menulis komennya di www.kompas.com untuk tulisan "Digital Native vs Digital Immigrant" yang dimuat di kolom ini beberapa waktu lalu.

Di sana Ibu Rani mengatakan: "Anak saya umurnya 20 tahun dan adalah contoh digital native karena dia memang hidup 24 jam online….saya adalah digital immigrant, orang yang mencoba untuk bisa masuk ke dunia digitalnya anak saya… Dan yang menyedihkannya, ketika coba ikut Facebook dan add anak saya (lewat friend request), dia malah ignore bukannya malah confirm."

Ibu Rani ternyata tidak sendirian ikut-ikutan Facebook.  Seperti yang telah ditulis sebelumnya,  Facebook saat ini semakin dibanjiri oleh ibu-ibu. Menurut data yang dirilis oleh Facebook sendiri, pertumbuhan tercepat populasi di situs jejaring sosial ini adalah segmen 35 tahun ke atas. Dan menurut Erick Qualman dalam Socialnomics, segmen yang juga cukup pesat tumbuhnya adalah wanita umur 55-65 tahun.

Ibu Rani juga bukan satu-satunya yang diabaikan oleh anaknya ketika mengirim friend request di Facebook. Karena ibu-ibu lain pun juga banyak yang di-ignore oleh anak-anaknya. Dan fenomena "My Mom is My Friend, But Not My Facebook Friend" ternyata menjadi fenomena global.

Seorang kolumnis di New York Times, Michelle Slatalla, pernah menulis tentang hal ini di harian tersebut dengan judul "'OMG My Mom Joined Facebook!!' Di dalam artikel tersebut ditulis bahwa dinamika dunia Facebook adalah refleksi hubungan kita di dunia offline. Pengalaman yang didapatkan oleh seorang ibu di jaman sekarang ketika masuk ke dunia online lewat Facebook dan malah tidak dianggap oleh anaknya mungkin merefleksikan bahwa si ibu itu tidak menjadi bagian dari jejaring sosial anaknya di dunia offline (baca: nyata).

Lori Aratani menulis hal yang kurang lebih sama di Washington Post di dalam artikel berjudul "When Mom or Dad Asks To Be a Facebook Friend." Di sana ditulis bahwa semakin banyak orang tua jaman sekarang yang ikut Facebook dan ternyata mereka tidak hanya add anaknya saja, tapi juga teman-teman anaknya. Banyak yang confirm friend request dari orang tua mereka. Tapi banyak pula yang ignore karena kurang sreg untuk memasuki orang tua mereka ke dalam komunitas jejaring mereka di dunia online. Bagi mereka itu "seperti mengajak orang tua ikut main bareng dengan teman-teman."  

Di dalam bukunya "Me, MySpace, and I: Parenting the Net Generation", Larry Rosen mengatakan bahwa fenomena jejaring sosial dianggap oleh orang tua sebagai jendela yang transparan untuk melihat secara dekat gerak-gerik perilaku anak mereka. Makanya mereka berbondong-bondong masuk ke dunia online ini untuk seakan beraksi ibarat intel. Di sisi lain, anak-anak mereka menganggap dunia online adalah milik mereka, dan orang dewasa (terutama kaum digital immigrant) hanyalah penyusup.

Confirm or Ignore?

Internet membuat dunia semakin transparan. Di dalam situs jejaring sosial seperti Facebook, MySpace, Twitter, Plurk, dan lain sebagainya, kita bisa tahu banyak hal termasuk apa yang dilakukan, dirasakan, dikatakan oleh teman kita. Di situs tersebut, berbagai hal yang sifatnya pribadi bisa kita lihat di halaman profil mereka.

Ada yang sengaja membuka profilnya untuk umum. Ada juga yang membuka profilnya untuk dilihat oleh orang-orang yang telah 'disetujui' dan 'dipastikan' (confirmed) untuk jadi temannya. Lewat sistem seperti ini kita tidak perlu ragu menaruh data pribadi tentang diri kita. Di Facebook, contohnya, kita bisa buka-bukaan, tampil apa adanya dan merasa nyaman karena mereka yang kita konfirm adalah orang-orang yang ingin kita bawa masuk ke dunia komunitas kita.

Steve Jones, seorang professor ilmu komunikasi di Chicago, mengatakan bahwa selama ini ada pemikiran yang salah. Di dunia online terlihat betul bahwa orang-orang cenderung menjauhkan apa-apa yang sifatnya pribadi bukan ke mereka yang tak dikenal, tapi justru kepada orang yang mereka kenal dekat. Artinya mereka tidak peduli apakah yang mereka share di dunia online itu dilihat oleh orang-orang umum. Tapi mereka sangat peduli ketika hal-hal yang sifatnya private justru dilihat oleh orang yang mereka kenal dekat.

Apa yang dibilang oleh Steve Jones mungkin ada benarnya. Situs jejaring sosial yang bermunculan sampai sekarang yang pasti telah membuat kata "teman" jadi lebih blur. Di dunia online seperti ini, orang asing (strangers) kita anggap teman, sedangkan dengan teman yang notabenenya adalah teman kita sebenarnya atau orang yang kita kenal dekat, justru kita malah berinteraksi dengan canggung.

Pertanyaan confirm or ignore yang dilematis ini tidak hanya dirasakan oleh anak-anak ketika mendapat friend request dari para orang tua di rumah. Di kantor pun fenomena yang sama juga dirasakan oleh para karyawan ketika ingin 'berteman' dengan boss-nya. Jared Sandberg menulis hal ini di artikel berjudul "OMG -- My Boss Wants to 'Friend' Me On My Online Profile" yang dimuat di harian Wall Street Journal.

Seperti yang ditulis di sana, dengan adanya Facebook, hubungan yang hirarkis antara atasan dan bawahan di dunia offline, mendadak terlihat horizontal di dunia online. Dan pada akhirnya sisi pribadi sesungguhnya dari boss dan karyawan jadi terlihat betul. Meskipun demikian banyak karyawan yang tidak rela untuk berteman dengan boss-nya di Facebook, karena itu tandanya ia harus mengorbankan segala bentuk hal yang sifatnya personal. Begitu juga sebaliknya dengan si boss ketika di add sebagai teman di Facebook oleh anak buahnya.

Confirming the Community

Satu yang dapat dijadikan alasan kenapa fenomena yang diceritakan di atas terjadi adalah karena pada dasarnya karakter si ibu tidak relevan dengan tujuan, identitas, dan nilai-nilai yang miliki oleh komunitasnya si anak. Meskipun sama-sama 'on' di dunia Facebook, bukan berarti para orang tua bisa 'in' ke dunia komunitas jejaring sosial anaknya. Karena untuk masuk ke sana, diperlukan karakter yang sejalan dengan tujuan, identitas, dan nilai-nilai yang dijunjung tunggi  oleh komunitas anaknya.

Dulu di era legacy, aktivitas targeting the segment menjadi langkah strategi yang menentukan gerak-gerik arah pemasaran suatu perusahaan. Di sana konsumen yang menjadi target pasar dieksploitasi oleh pemasar lewat 4P-nya (product, price, place, and promotion). Dan itu semua dilakukan tanpa peduli, suka-tidak suka, setuju-tidak setuju, selama konsumen menjadi target market sebuah perusahaan, konsumen akan menerima bentuk eksploitasi tersebut.

Di era New Wave ini, praktek yang demikian menjadi tidak lagi relevan. Sejalan dengan apa yang dibahas kemarin, kita tidak lagi berbicara tentang targeting the segment namun confirming the community. Karena di era pemasaran seperti ini, orientasi pemasaran berbasiskan komunitas konsumen yang saling kenal bukan lagi segmen konsumen yang tidak kenal satu sama lain. Praktek yang dilakukan dalam rangka konfirmasi terhadap (dan oleh) komunitas ini sendiri bernuansakan horisontal, karena pada dasarnya langkah ini dijalankan dua arah.

Bukan saja perusahaan yang mengkonfirm sebuah komunitas karena kemiripannya dengan karakter merek perusahaan, namun juga si komunitas sendiri harus mengkonfirm bahwa perusahaan yang ingin masuk ke dalam komunitas tersebut adalah 'teman' yang baik. 

Hal yang terpenting yang harus dilakukan oleh pemasar dalam hal ini adalah mencari relevansi antara komunitas dan perusahaan. Percuma saja kalau sebuah komunitas jumlah anggotanya banyak, pertumbuhan jumlah anggotanya juga terus meningkat. Namun, ternyata komunitas tersebut tidak punya relevansi yang sama dengan kita alias tidak punya identitas dan nilai-nilai yang sama.

Hermawan Kartajaya

http://m.kompas.com/news/read/data/2009.09.30.09435572